Sabtu, 25 September 2010

PERANAN SISTEM INFORMASI

PERANAN SISTEM INFORMASI

Betapa pentingnya informasi dalam kehidupan umat manusia. Karena begitu pentingnya, maka informasi yang datang tidak boleh terlambat dan harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan relevan dengan penggunanya, sehingga informasi tersebut menjadi informasi yang berkualitas dan berguna bagi pemakainya. Untuk mendapatkan suatu informasi yang berkualitas, perlu dibangun sebuah sistem informasi sebagai media pembangkitnya. Sistem informasi merupakan cara untuk menghasilkan informasi yang berguna. Informasi yang berguna yang akan mendukung sebuah pengambilan keputusan bagi pemakainya.

Menurut pendapat saya, peranan sistem informasi dewasa ini terutama dalam suatu organisasi tidak diragukan lagi. Dukungannya dapat membuat sebuah perusahaan memiliki keunggulan yang kompetitif. Hal ini menjelaskan bahwa suatu perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan lain dengan mempergunakan sistem informasi. Keberadaan sistem informasi tidak hanya bermanfaat bagi perusahaan, tetapi juga bagi nasabah dan konsumen. Sebagai contoh berkat sistem informasi para nasabah bank dengan mudah dapat mengambil uang di mesin-mesin ATM, memperoleh informasi saldo tabungan atau melakukan transfer melalui telepon.

Sistem informasi telah banyak membantu manusia, entah disadari atau tidak, banyak sekali aktivitas manusia yang berhubungan dengan sistem informasi. Tidak hanya di Negara-negara maju, di Indonesia pun sistem informasi telah banyak diterapkan di mana-mana, seperti di kampus, di kantor, di pasar swalayan, di bandara, dan bahkan di rumah ketika pemakai bercengkerama dengan dunia internet. Ada bermacam-macam system informasi, diantaranya :

- Sistem untuk menangani penjualan kredit kendaraan bermotor sehingga dapat digunakan untuk memantau hutang para pelanggan.

- Sistem untuk mengetahui denda peminjaman buku pada perpustakaan kampus.

- Sistem layanan akademis berbasis Web yang memungkinkan mahasiswa memperoleh data-data akademis, seperti studentsite, baak, dll.

- E-government atau sistem informasi layanan pemerintahan yang berbasis internet.

- Sistem reservasi pesawat terbang, yang digunakan dalam biro perjalanan untuk melayani pemesanan/pembelian tiket.

- Sistem biometrik yang dapat mencegah orang yang tidak berwenang memasuki fasilitas-fasilitas rahasia atau mengakses informasi yang bersifat rahasia dengan cara menganalisa sidik jari atau retina mata.

- Sistem POS (point of sale) yang diterapkan pada kebanyakan pasar swalayan dengan dukungan pembaca barcode untuk mempercepat pemasukan data.

Minggu, 30 Mei 2010

Lapisan-lapisan Atmosfer

Lapisan-lapisan Atmosfer

Lapisan-lapisan Atmosfer dibagi menjadi 5 macam menurut ketinggiannya. yaitu:

Troposfer (0–15 km)
Troposfer berada pada lapisan atmosfer paling bawah. Manusia dan makhluk hidup lain hidup di lapisan ini. Lapisan ini menjadi tempat akumulasi gas-gas oksigen, nitrogen, dan karbon dioksida. Uap air dan karbon dioksida yang banyak terdapat pada lapisan ini berfungsi menjaga
keseimbangan panas permukaan Bumi, terutama yang ditimbulkan oleh radiasi sinar inframerah dari Matahari. Pada lapisan ini terjadi penurunan suhu seiring dengan peningkatan ketinggian karena sangat sedikit penyerapan radiasi gelombang pendek dari Matahari.

Stratosfer (15–50 km)
Stratosfer mempunyai dua lapisan molekul-molekul gas tipis yang tidak terdapat troposfer. Lapisan bawah mengandung bahan sulfat yang memengaruhi terjadinya hujan. Di stratosfer bagian atas terdapat lapisan ozon terbesar. Stratosfer adalah lapisan inversi, yaitu semakin tinggi dari permukaan Bumi, suhu udara akan meningkat. Kenaikan suhu ini disebabkan oleh lapisan ozon yang menyerap radiasi ultraviolet dari Matahari. Bagian stratosfer paling atas disebut stratopause, yaitu lapisan yang membatasi stratosfer dan mesosfer.

Mesosfer (50–85 km)
Suhu udara di lapisan mesosfer sangat dingin mencapai –100°C. Suhu yang sangat dingin ini menyebabkan meteor-meteor dari luar angkasa yang sangat panas pecah dan berubah menjadi batuan-batuan kecil yang tidak membahayakan kehidupan di Bumi. Di mesosfer terdapat lapisan ion atau udara bermuatan listrik yang disebut lapisan D. Lapisan D terbentuk karena sinar ultraviolet pada molekul-molekul udara bertemu dengan elektron bermuatan listrik negatif. Awan sinar malam yang berasal dari uap air atau debu meteorit muncul pada lapisan ini.

Termosfer (85–500 km)
Pada lapisan termosfer terjadi ionisasi gas-gas oleh radiasi matahari sehingga lapisan ini dikenal juga dengan ionosfer. Berkat adanya gasgas yang mengalami ionisasi ini, sinyal-sinyal radio komunikasi dari permukaan Bumi dapat dipantulkan kembali ke Bumi, sehingga aktivitas komunikasi dapat terjadi. Pada lapisan ini terdapat pula sinar kutub (aurora) yang muncul di kala fajar atau petang.

Eksosfer (lebih dari 500 km)
Kandungan gas utama pada lapisan eksosfer adalah hidrogen. Kerapatan udaranya semakin tipis sampai hampir habis di ambang luar angkasa. Cahaya redup yaitu cahaya zodiakal dan gegenschein muncul pada lapisan eksosfer. Cahaya ini sebenarnya merupakan pantulan sinar matahari oleh partikel debu meteorit yang jumlahnya banyak dan melayang di angkasa. Satelit-satelit buatan biasanya berada di lapisan ini




CIRI CINTA SEJATI

CIRI CINTA SEJATI

Hampir semua orang pasti pernah merasakan jatuh cinta. Tak jarang yang rela melakukan segalanya untuk memilikinya. Bahkan, ada seorang wanita yang nekat menikahi arwah pacarnya untuk mengapresiasikan kekuatan cintanya. Apakah ini yang dinamakan cinta sejati?

Simak beberapa indikator berikut untuk memastikan apakah pasangan saat ini adalah cinta sejati Anda.

Komunikasi
Komunikasi yang nyambung sangat penting dalam sebuah hubungan. Jika merasa sulit menemukan topik pembicaraan dengannya, atau hal-hal penting dalam hidup, ini adalah masalah besar.

Hubungan yang sehat harus diwarnai dengan diskusi-diskusi ringan tentang apa saja, bukan sekadar kehidupan sehari-hari. Misalnya obrolan tentang masa lalu, masa depan, tujuan hidup, keyakinan, hobi, pekerjaan, atau kepribadian masing-masing. Jika Anda merasa mampu berbagi cerita tanpa takut kritikan, bisa jadi dia adalah cinta sejati Anda.

Kepercayaan
Cinta sejati tidak akan lahir tanpa kepercayaan. Kejujuran yang tinggi bisa mempererat hubungan, namun Anda tidak dapat membangun di atas pondasi yang tidak mengandung kepercayaan dari awal.

Pengorbanan diri
Tanyakan kepada diri Anda apakah sudah cukup pengorbanan dirinya dan pengorbanan Anda sendiri. Flashback pada hal yang membuat hubungan Anda dan Dia terganggu secara emosional.

Apakah Anda berdua menempatkan orang lain saat mengatasi masalah dalam hubungan. Jika pengorbanan dirinya dan Anda hanya sedikit, mungkin itu bukanlah cinta sejati. Apa yang Anda miliki adalah hubungan yang dengan cepat bisa menjadi kodependen.

Perubahan dan Penerimaan
Cinta sejati meliputi kesediaan untuk mengubah diri demi pasangan. Apakah perubahan rencana masa depan, preferensi dekorasi interior, atau yang lainnya. Hal ini juga mencakup kemampuan untuk menerima dan perasaan aman untuk diterima .

Cinta sejati berarti bahwa Anda dapat melihat kesalahan pasangan Anda, tetapi Anda menerima mereka sebagai bagian dari hidup Anda. Anda tidak harus merasa bahwa Anda harus bertindak, bicara, berpakaian, berpikir atau merasa dengan cara tertentu agar dapat diterima menjadi orang yang dicintainya.

Menghormati
Saling menghormati tidak berarti selalu setuju satu sama lain, tetapi tidak berarti bahwa pada tingkat dasar Anda memperluas sopan dan toleransi satu sama lain bahkan di tengah-tengah perselisihan. Anda harus menghormati hak-hak masing-masing yang berbeda.

Dan, Anda harus menemukan cara untuk kompromi dan toleransi satu sama lain pada saat-saat, bahkan ketika Anda tidak merasa seperti memberikan jalan. Bahkan, ciri dari cinta sejati adalah bahwa Anda masih memilih untuk memperlakukan orang lain dengan hormat dan lembut, bahkan ketika Anda merasa sebaliknya.

Otonomi
Cinta sejati seharusnya membuat Anda lebih kuat, tidak terlalu bergantung padanya. Seseorang yang benar-benar mencintai Anda akan mendorong Anda untuk hidup, berpikir, bertindak, bernapas, mengejar impian dan menghadapi tantangan dengan dukungan penuh dan cinta di balik kehidupan Anda.
Kasih sayang
Kasih sayang penting dalam sebuah hubungan. Tak hanya dalam wujud fisik, tapi juga sentuhan lain yang romantis.

Jumat, 30 April 2010

PERAYAAN HARI VALENTINE

PERAYAAN HARI VALENTINE

Tasyabuh (menyerupai) orang kafir adalah fenomena yang telah merebak luas di kalangan masyarakat Islam. Salah satu bentuk tasyabuh yang cukup banyak terjadi adalah tasyabuh orang kafir dalam perayaan hari-hari besar mereka, yang salah satu di antaranya adalah apa yang dikenal dengan istilah hari valentin. Dalam makalah ini penulis menjelaskan latar belakang perayaan valentine dan hukum merayakannya disertai dengan nukilan dari fatwa Syekh Muhammad As-ShalehUtsaimin yang terkait dengan hal tersebut.
Pada suatu pagi Nura (nama seorang remaja putri) tiba-tiba datang kepada teman-temanya dengan membawa bunga mawar merah di dadanya yang disambut mereka dengan senyuman yang diiringi pertanyaan: “Dalam rangka apa kamu membawa bunga ini?”
Nura menjawab: Tidakkah kamu tahu bahwa hari ini adalah hari kasih sayang, semua orang sedang merayakanya dan saling memberi ucapan selamat, ini adalah perayaan terhadap kasih sayang, romantisme, kejujuran, ini adalah hari valentine…..dia terus berbicara dengan bangga menceritakan apa yang ia saksikan di saluran televisi, akan tetapi Amel – yang ikut mendengar cerita dengan seksama- bertanya kepada Nura dengan penuh rasa heran: Apa artinya valentine?
Dia menjawab: Artinya “cinta” dalam bahasa Latin..
Amel si gadis berpendidikan itu tertawa mendengar jawaban Nura, lalu berkata: Kamu merayakan sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu maknanya? Sesungguhnya Valentine itu adalah seorang pendeta Nasrani yang hidup di abad ketiga Masehi. Amel terus bercerita tentang semua hal terkait dengan pendeta tersebut dan menjelaskan bahwa hari raya Valentine adalah semata-mata hari raya agama Nasrani yang bertujuan untuk mengenang salah seorang tokohnya.
Amel sangat menyesalkan perilaku sebagian remaja putri yang menelan begitu saja segala informasi yang diberitakan kepada mereka tanpa memikirkan secara jernih apa yang sebenarnya.








Latar Belakang Perayaan Valentine
Amel mengatakan kepada teman-temannya bahwa dalam Ensiklopedi Katolik menyebutkan tiga riwayat seputar Valentine, tetapi yang paling terkenal adalah apa yang disebutkan sebagian kitab yang menyatakan bahwa pendeta Valentine dulu hidup di abad ke tiga Masehi pada masa pemerintahan Kaisar Roma Kalaudis II.
Pada tanggal 14 Februari 270 M, kaisar ini mengeksekusi mati pendeta tersebut karena ia menentang terhadap beberapa perintah kaisar. Apa gerangan perintah yang ditentang oleh pendeta tersebut? Amel mengatakan bahwa kaisar mengamati pendeta tersebut telah berdakwah kepada agama Nasrani, lalu ia memerintahkan agar pendeta tersebut ditahan dan dieksekusi.
Riwayat lain menambahkan bahwa kaisar memandang bahwasanya para bujangan lebih bisa sabar dalam medan perang dari pada mereka yang berkeluarga. Para suami selalu berusaha menolak untuk pergi berperang. Oleh karena itu, kaisar mengeluarkan perintah yang melarang perkawinan, akan tetapi pendeta Valentine menentang perintah itu dan tetap menyelenggarakan akad nikah di gerejanya secara sembunyi-sembunyi, hingga akhirnya terungkaplah perkaranya lalu kaisar memerintahkan penangkapan terhadap pendeta itu dan memenjarakanya.
Di dalam penjara pendeta berkenalan dengan seorang gadis, putri salah seorang sipir penjaga penjara. Gadis itu mengidap satu penyakit, lalu bapaknya meminta kepada pendeta agar menyembuhkanya. Setelah iobati, tak lama kemudian gadis itu sembuh –sebagaimana yang diceritakan dalam riwayat itu- dan pendeta itu jatuh cinta kepadanya. Dan sebelum dieksekusi, pendeta mengirim kepada gadis itu sebuah kartu yang di atasnya tertulis: “Dari yang tulus Valentine.“ Sebelum kejadian itu gadis tersebut telah masuk agama Nasrani bersama 46 orang kerabatnya.
Riwayat ketiga menyebutkan bahwa ketika agama Nasrani tersebar di Eropa, ada satu bentuk ritual keagamaan di salah satu kampung yang menarik perhatian para pendeta, yang mana para pemuda desa berkumpul di pertengahan bulan Februari dalam setiap tahunnya. Mereka mencatat seluruh nama gadis desa lalu memasukannya ke dalam sebuah kotak. Setiap pemuda diberi kesempatan untuk mencabut satu nama, dan nama gadis yang keluar itulah yang akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun itu. Mereka pada saat itu ia langsung mengirim kepada sang gadis sebuah kartu yang tertulis di atasnya: “Dengan menyebut nama Tuhan Ibu aku kirim kepadamu kartu ini“. Hubungan cinta ini berlanjut hingga melewati satu tahun itu baru kemudian dirubah.
Para pendeta memandang bahwa ritual tersebut dapat mengokohkan akidah orang-orang Roma, dan mereka menyadari bahwa ritual ini sangat sulit untuk dihapus, karena itu mereka menetapkan untuk merubah kalimat yang diucapkan para pemuda itu dari “Dengan menyebut nama Tuhan Ibu“ menjadi: “Dengan menyebut pendeta Valentine,“ sebab ia adalah simbol Nasrani, dan dengan cara itu mereka dapat mengaitkan para pemuda ini dengan agama Nasrani.
Riwayat lain menceritakan: bahwa Valentine ditanya tentang Tuhan Roma Athard, dia adalah Tuhan yang mengurusi perniagaan, kefasihan, makar dan pencurian, dan Jupiter yang merupakan Tuhan Roma terbesar, maka Valentine menjawab; Tuhan-Tuhan ini adalah rekayasa manusia, Tuhan yang sebenarnya adalah Isa Al-Masih.
Amel berkata: “Maha Tinggi Allah dari semua yang dikatakan orang-orang yang bodoh itu.”
Amel melanjutkan: Salah seorang pendeta mengatakan bahwa sungguh bapak-bapak dan ibu-ibu kita heran menyaksikan perkembangan terakhir bentuk perayaan agama ini, yang sebagian kartu ucapan selamat hari valentine memuat gambar anak kecil yang bersayap dua mengelilingi hati yang dibidik dengan anak panah.
Amel bertanya kepada teman-temanya: “Tahukah kalian apa yang dimaksud oleh symbol tersebut?”
Amel juga mengatakan bahwa ada salah satu website perayaan valentine yang sekelilingnya dihiasai gambar hati yang di tengahnya ada salib!!!

Hukum Merayakan Hari Valentine
Majida menambahkan apa yang dikatakan Amel dengan apa yang telah ia baca terkait hukum merayakan hari raya orang Yahudi dan Nasrani seraya mengatakan bahwa dalam masyarakat yang dikuasai keyakinan akan cinta sejati dan mengharap kebaikan melalui ikatan keluarga mulai bermunculan tradisi-tradisi yang aneh pada sebagian kecil gadis-gadis beriman. Hal itu dampak dari siaran-siaran televisi, khususnya pada sebagian orang yang mengidap penyakit taklid (suka meniru) terutama di negara-negara industri maju, maka di situlah demam meniru begitu cepat menyebar khususnya pada wanita-wanita yang kurang pendidikan. Hal semacam itu juga tak lain adalah tanda kemunduran dan kekalahan, maka seyogyanya bagi setiap cendekiawan muslimah yang berpendidikan agar waspada terhadap penyakit taklid ini, dan jangan sampai tergoda untuk ikut meniru.
Abu Waqid r.a. menceritakan bahwa tatkalah Rasulullah saw pergi ke Khaibar bertemu dengan sebuah pohon milik orang-orang musyrikin yang dinamakan ”dzatu anwaath.” Mereka biasanya menggantungkan senjata padanya, lalu para sahabat berkata: Ya Rsaulullah, buatkanlah untuk kami dzatu anwaath seperti yang mereka punya, maka Nabi SAW bersabda:
“Maha suci Allah, ini sama dengan yang pernah dikatakan oleh kaum Musa a.s.: buatkanlah untuk kami Tuhan sebagaimana Tuhan mereka, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya sungguh kalian ini mengikuti langkah-langkah orang-orang sebelum kalian.“ (HR. Tirmizi, hadits hasan).
Karakter suka meniru dan taklid meskipun kenyataanya ada dalam jiwa, namun ia tercela dalam agama jika pelakunya menyimpang dalam keyakinan dan pemikiranya, khususnya apabila terjadi dalam masalah aqidah atau ibadah atau syi’ar agama ataupun adat. Dan tatkalah kaum muslimin di zaman ini lemah maka semakin bertambahlah kwalitas meniru mereka kepada musuh-musuh Islam, dan fenomena-fenomena yang asing bertebaran di mana-mana baik dalam bentuk barang konsumtif ataupun prilaku dan akhlak. Di antara fenomena itu adalah bentuk perhatian mereka yang besar terhadap hari raya valentine yang notabenya bertujuan untuk mengenang pendeta Valentine sebagaimana yang dikisahkan oleh Amel. Jika mereka memperingati itu dengan sebuah keyakianan dan niat mengenang Valentine maka tidak diragukan lagi itu adalah perbuatan kufur, adapun jika tidak bermaksud itu maka ia telah berbuat kemungkaran yang besar.
Ibnu Qayyim mengatakan: “Memberi ucapan selamat terhadap syi’ar-syiar agama kafir adalah haram hukumnya (semua sepakat), seperti memberi selamat atas hari raya mereka atau puasa mereka dengan mengatakan: I’dun mubarak alaika (semoga hari rayamu membawa berkah bagimu), atau berbahagialah dengan hari rayamu, dan yang sejenisnya. Ini semua meski orang yang mengucapkanya tidak dihukumi kafir, namun itu adalah termasuk perbuatan yang diharamkan dan sama saja dengan memberi selamat atas sujud mereka kepada salib. Bahkan hal itu lebih terkutuk dan lebih besar dosanya dibanding memberi selamat terhadap perilaku minum khamr dan membunuh jiwa...Banyak orang yang tidak memiliki perhatian serta sensitifitas agama terjerumus ke dalam perilaku tersebut tanpa menyadari keburukanya, sebagaimana orang yang menyambut seorang hamba atas kemaksiatanya atau perbuatan bid’ahnya atau kekufuranya, maka orang semacam itu diancam mendapat murka dan kutukan-Nya “.
Amel kembali bertanya: „Apa kaitan hal ini dengan masalah wala‘ dan bara‘ wahai Majidah?“
Majidah menjawab: Di antara prinsip-prinsip aqidah salafushalih adalah wala‘ dan bara‘, karena itu wajib atas setiap yang berikrar bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya untuk merealisasikan prinsip ini. Wajib baginya untuk mencintai orang-orang beriman dan membenci orang-orang kafir, termasuk di dalamnya memusuhi dan menyelisihi mereka, dan ia harus meyakini bahwa dalam hal itu terdapat kemaslahatan yang tidak terhitung, sebagaimana dalam tasyabuh (menyerupai) mereka tedapat kerusakan yang jauh lebih besar.
Ditambah lagi bahwa menyerupai orang-orang kafir dapat akan memberikan rasa gembira dan kepuasan pada mereka, sebagaimana hal itu juga berarti mencintai mereka dan memberikan loyalitas perasaan terhadap mereka, karena orang yang merayakan hari raya ini dan melihat ada Margaret atau Hilary juga merayakan momen yang sama, pasti akan memberikan kegembiraan dan kepuasan tersendiri, dan Allah SWT berfirman:
" يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض ومن يتولهم منكم فإنه منهم إن الله لا يهدي القوم الظالمين "
“Wahai orang-orang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu), mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya mereka termasuk golongan mereka. Sungguh allah tidak memberi petunjuk kepada oranorang dzalim. “ ( QS. Al-Maidah: 51).
Dan Allah SWT berfirman:
" لا تجد قوما يؤمن بالله واليوم الآخر يوادون من حادالله ورسوله "
“Engkau (Muhamad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan menentang Allah da Rasul-Nya.“ (QS. Al-Mujadilah: 22).
Allah SWT berfirman:
" ولا تأخذكم بهما رأفة في دين الله إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر "
“Dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.“ (QS. An-Nur: 2).
Di antara keburukan tasyabuh (menyerupai) orang-orang kafir adalah bahwa menyerupai mereka berarti ikut menyebarkan syi’ar-syi’ar agama mereka dan menjadikanya dominan. Dengan demikian sunnah menjadi samar dan bercanpur dengan yang lain, dan tidaklah suatu bid’ah dihidupkan kecuali pasti sunnah dimatikan. Dan di antara dampak tasyabuh adalah memperbanyak jumlah mereka serta menolong dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim senantiasa membaca dalam setiap rakaat shalat:
" اهدنا الصراط المستقيم, صراط الذين أتعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين "
“ Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat“. (QS. Al-Fatihah: 7).
Bagaimana ia meminta Allah SWT agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang beriman dan dijauhkan dari jalan orang-orang yang dimurkai dan sesat, sementara ia sendiri yang memilih jalan orang-orang yang dimurkai dan sesat dengan penuh kesadaran.. Saudariku tercinta mungkin mengatakan: ia tidak ikut serta dalam keyakinan mereka, tetapi ia hanya ingin menebar ungkapan cinta dan rasa gembira di tengah sahabat-sahabatnya. Tentu saja ini adalah pandangan yang dangkal dan sebuah kelalaian, padahal Amel telah berbicara menjelaskan prinsip dan asal-usul hari raya ini. Bagaimana kemudian ia menjadi sebuah momen khusus untuk saling tukar-menukar bunga bahkan bagi kaum homo dan lesbian di Barat sebagai ajang melepaskan kebutuhan seks. Bagaimana mungkin seorang muslimah yang suci dan terhormat mensejajarkan diri dengan orang-orang kotor dan rendahan itu?
Merayakan hari valentine bukanlah sesuatu yang biasa, bukan pula perkara mainan, ia adalah satu bentuk nilai/tatanan yang diimpor dari Barat terkait hubungan antara laki-laki dan wanita. Sudah menjadi maklum bahwa mereka tidak mengakui batasan-batasan yang melindungi masyarakat dari dampak kerusakan moral seperti yang dibuktikan oleh fakta sosial mereka yang hancur dewasa ini. Dan Alhamdulillah, kita punya banyak alternatif yang menjadikan kita tidak lagi butuh untuk meniru dan bertaklid kepada mereka. Kita punya ibu misalnya, yang memiliki kedudukan tinggi yang kapan saja kita bisa mempersembahkan hadiah untuknya. Begitu juga bapak, saudara laki-laki dan saudara perempuan serta suami atau istri, tetapi pemberian hadiah tersebut bukan bersamaan dengan perayaan orang-orang kafir tersebut.
Sesungguhnya hadiah yang mengungkapkan rasa cinta adalah sesuatu yang baik, namun jika harus dikaitkan dengan perayaan-perayaan agama Nasrani dan tradisi-tradisi Barat akan menyeret pelakunya menjadi terkontaminasi dan mengikuti budaya dan cara hidup mereka..
Di akhir pembicaraan, Majidah mengatakan bahwa kalangan pedagang senang dengan kehadiran momen ini, karena dapat menghidupkan pasar bunga dan penjualan kartu ucapan selamat hari valentine. Jika tasyabuh dengan orang-orang kafir dalam hari raya mereka tidak boleh, maka begitu pula halnya berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dengan bentuk apapun.
Nura berkata seraya membuang bunga mawarnya: sungguh aku sangat membutuhkan persahabatan seperti ini, persahabatan yang dapat membimbingku kepada kebenaran dan mencintaiku karena Allah SWT. Aku memohon kepada Allah SWT agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang Dia katakan: „Cinta dan kasih sayangku wajib aku berikan untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, saling mengunjungi karena-Ku dan saling memberi karena-Ku.“
Semoga Allah SWT senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus yang mendekatkan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disiapkan bagi orang-orang yang bertaqwa. Dan semoga Allah SWT memelihara dan menjaga kepribadian islam kita yang agung dan memperbaiki kondisi kaum muslimin.





Fatwa Syekh Muhammad As-Shalih bin Utsaimin pada 5/11/1420 H.
Pertanyaan: Dewasa ini perayaan hari Valentine telah menjadi trend, khususnya di kalangan para siswi dan mahasiswi, padahal itu adalah hari raya Nasrani. Seragam yang mereka pakai baju hitam dan sepatu hitam, mereka saling bertukar bunga merah…Kami mohon Syekh menjelaskan tentang hukum perayaan seperti ini, dan apa nasehat Syekh untuk kaum muslimin dalam perkara ini…!
Jawab: Merayakan hari valentine tidak boleh, oleh karena itu hukumnya haram dengan beberapa alasan:
1- Bahwa itu adalah hari raya bid’ah, tidak memiliki dasar dalam syari’ah Islam.
2- Hari raya seperti itu hanya akan menyibukkan hati dan perasaan dengan hal-hal yang tidak ada gunanya dan bertentangan dengan petunjuk salafushalih -semoga Allah meridhai mereka-, maka tidak boleh terjadi pada hari itu satu bentuk syi’ar hari raya apapun baik dalam makanan, minuman, maupun pakaian, atau saling tukar-menukar hadiah atau yang lainnya. Wajib atas setiap muslim untuk bangga dengan agamanya dan tidak boleh mengekor serta mengikuti setiap seruan. Aku memohon kepada Allah SWT agar melindungi kaum muslimin dari setiap fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan membimbing kita dengan bimbingan serta taufik-Nya.

Hikmah Di Balik Musibah

Hikmah Di Balik Musibah

Musibah. Pada dasarnya merupakan sesuatu yang begitu akrab dengan kehidupan kita. Adakah orang yang tidak pernah mendapatkan musibah? Tentu tak ada. Musibah adalah salah satu bentuk ujian yang diberikan Allah kepada manusia. la adalah sunnatullah yang berlaku atas para hamba-Nya. la bukan berlaku pada orang-orang yang lalai dan jauh dari nilai-nilai agama saja. Namun ia juga menimpa orang-orang mukmin dan orang-orang yang bertakwa. Bahkan, semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah, maka semakin berat ujian dan cobaan yang diberikan Allah kepadanya. Karena Dia akan menguji keimanan dan ketabahan hamba yang dicintai-Nya.

Sebagai contoh, bangsa kita tercinta sekarang ini sedang dirundung dan didera dengan berbagai musibah, mulai dari gelombang tsunami, lumpur lapindo, flu burung, busung lapar, gizi buruk, harga melonjak ditambah lagi permasalahan nasional yang tak kunjung teratasi, akan tetapi sayangnya sedikit yang bisa mengambil hikmah dari musibah yang sedang kita derita. Ujian yang semestinya mendongkrak kualitas keimanan dan mengantar pada keberkahan temyata sering membawa kepada murka Allah. Tak lain karena orang yang terkena musibah tak mampu bersikap benar saat menghadapinya.
Sesungguhnya di balik musibah itu terdapat hikmah dan pelajaran yang banyak bagi mereka yang bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah yang telah mentakdirkan itu semua untuk hamba-Nya, diantara hikmah yang bisa kita petik antara lain adalah:

1. Musibah akan mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.

Allah Ta'ala berfirman:
وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ ( الشورى: 30)
artinya, “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS asy Syura: 30)

Dalam ayat ini terdapat kabar gembira sekaligus ancaman jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah merupakan hukuman atas dosa-dosa kita. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melain-kan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain beliau bersabda:“Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”
Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

2. Mendapatkan kebahagiaan (pahala) tak terhingga di akhirat.

Itu merupakan balasan dari musibah yang diderita oleh seorang hamba sewaktu di dunia, sebab kegetiran hidup yang dirasakan seorang hamba ketika di dunia akan berubah menjadi kenikmatan di akhirat dan sebaliknya. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”

Dan dalam hadits lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR .Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan).

3. Sebagai parameter kesabaran seorang hamba.

Sebagaimana dituturkan, bahwa seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar. Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya, namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.

Anas Radhiallaahu anhu meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

Apabila seorang hamba bersabar dan imannya tetap tegar maka akan ditulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah maka dia akan ditulis namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada seorang hamba maka setiap ketetapan Allah yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

4. Dapat memurnikan tauhid dan menautkan hati kepada Allah.

Wahab bin Munabbih berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.”
Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah berfirman,
وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى اْلإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَئَا بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ (فصلت:51 )
artinya, “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita. Apabila seseorang ditimpa musibah baik berupa kefakiran, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah saja sebagiamana dilakukan oleh Nabi Ayyub 'Alaihis Salam yang berdoa, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al Anbiyaa :83)

5. Memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya.

Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah menjauhkan diri dari kesesatan.

6. Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala.

Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap,dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Dia tak akan mampu menguasai kematian, terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu namun tetap saja lupa. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

7. Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah.

Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi orang yang terkena musibah besar, maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata, sehingga ia mengadu: “Ya Allah tak ada lagi harapan untuk keluar dari bencana ini kecuali hanya kepada-Mu.” Dan banyak terbukti ketika seseorang dalam keadaan kritis, ketika para dokter sudah angkat tangan namun dengan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah ia dapat sembuh dan sehat kembali. Dan ibadah raja’ ini tak akan bisa terwujud dengan utuh dan sempurna jika seseorang tidak dalam keadaan kritis.

8. Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah n bersabda, ”Barang siapa yang dikehen-daki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al Bukhari). Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

9. Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa dilakukan oleh orang yang sakit.

Meskipun ia tidak lagi dapat melakukannya atau dapat melakukan namun tidak dengan sem-purna. Hal ini dikarenakan seandainya ia tidak terhalang sakit tentu ia akan tetap melakukan kebajikan tersebut, maka sakinya tidaklah menghalangi pahala meskipun menghalanginya untuk melakukan amalan. Hal ini akan terus berlanjut selagi dia (orang yang sakit) masih dalam niat atau janji untuk terus melakukan kebaikan tersebut. Dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, ”Tidak seorangpun yang ditimpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintah-kan kepada para malaikat untuk menjaganya, Allah berfirman kepada malaikat itu, “Tulislah untuk hamba-Ku siang dan malam amal shaleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian denganKu.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya)


10. Dengan adanya musibah seseorang akan mengetahui betapa besarnya nikmat keselamatan dan 'afiyah

Jika seseorang selalu dalam keadaan senang dan sehat maka ia tidak akan mengetahui derita orang yang tertimpa cobaan dan kesusahan, dan ia tidak akan tahu pula besarnya nikmat yang ia peroleh. Maka ketika seorang hamba terkena musibah, diharapkan agar ia bisa betapa mahalnya nikmat yang selama ini ia terima dari Allah.

Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya, dan jika tertimpa kefakiran maka pasti ada yang lebih fakir lagi. Hendaknya ia melihat musibah yang sedang diterimanya dengan keridhaan dan kesabaran serta berserah diri kepada Allah Dzat yang telah mentakdirkan musibah itu untuknya sebagai ujian atas keimanan dan kesabarannya.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu 'anhu: “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali dengan bertobat.” (Al-Jawabul Kafi hal. 118)

Kiat-Kiat Menghindari Bencana

Kiat-Kiat Menghindari Bencana

1. Yakin dan Husnuzhan (berbaik sangka) dengan Allah Azza wa Jalla. Jangan sampai mengatakan " saya akan mencoba (berobat) dengan firman Allah, tetapi hendaklah kita Yakin bahwa dalam Al-Qu'ran itu ada kesembuhan, dan merupakan obat yang paling penting dalam mencari kesembuhan.

2. Mengagungkan Allah ( Sang Pencipta ) dan Kembali kepada-Nya, selalu menggantungkan harapan, tobat dan do'a kepada-Nya. Dia sendirilah yang Maha Penyembuh. Dan perlu diingat bahwa meruqyah diri sendiri jika mampu ketika ada musibah lebih baik dari pada diruqyah oleh orang lain.

3. Allah akan menjaga hamba-Nya apabila dia melaksanakan segala perintah-Nya, seperti menjaga shalat lima waktu secara berjama'ah di masjid. Nabi - Shalallahu 'Alaihi Wasallam – bersabda :
من صلّى الصبح فهو في ذمة الله , فلا يطلبنكم الله من ذمته بشيء .
" Siapa saja yang shalat subuh maka dia berada dalam tanggungan (penjagaan) Allah, maka janganlah sampai Allah mengambil kembali penjagaan-Nya itu dari kamu". ( HR. Muslim )
Dan juga dengan menjauhi larangan-larangan-Nya, seperti tidak melihat yang diharamkan, menjauhkan mata dari melihat tayangan yang tidak senonoh yang lebih banyak memberi mudharat bagi keluarga dan menyebabkan kesengsaraan, menjauhkan diri dari nyanyian, tidak menghadiri pesta-pesta yang berisi kemunkaran, maka kamu pasti akan mendapatkan perlindungan Allah yang telah disampaikan oleh Nabimu - Shalallahu 'Alaihi Wasallam – dengan sabdanya :
" احفظ الله يحفظك "
" Jagalah Allah pasti Dia akan menjagamu". ( HR. Ahmad dan Tirmizi )

4. Memperbanyak Wirid dan Zikir yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah yang shahihah. Zikir kepada Allah dalam berbagai kesempatan seperti zikir setelah shalat, wirid harian dari Al-Qur'an, Zikir pagi dan petang, zikir ketika akan tidur dan ketika bangun.

5. Selalu mengerjakan amal shaleh yang akan memperkuat iman. Nabi - Shalallahu 'Alaihi Wasallam – pernah ditanya :
أي الأعمال أحب إلى الله ؟ قال : " أدومها وإن قل "
" Amalan apakah yang paling dicintai Allah ? Beliau menjawab : Amalan yang dikerjakan terus menerus (continiu) meskipun sedikit ” . ( HR. Bukhari ).
Diantara amalan-amalan tersebut adalah :
a. Selalu membaca dan menghafal Al-Qur'an sesuai dengan kemampuan, mentadabburi ayat-ayatnya, berdiam diri di mesjid dan selalu zikir kepada Allah dalam setiap kesempatan.
b. Senantiasa melakukan ibadah-ibadah sunnah seperti shalat sunat rawatib, Qiyamullail, shalat Dhuha dan juga witir.
c. Berbakti kepada kedua orang tua dan menjaga silaturrahmi meskipun sudah diputuskan oleh orang lain.
d. Melaksanakan puasa Sunnah, seperti puasa hari senin dan kamis, puasa Biidh ( puasa pada bulan purnama, yaitu tanggal 13,14,15 setiap bulan Hijriyah ), puasa sepuluh hari bulan Dzulhijjah, puasa 'Asyura dan puasa enam hari di bulan syawal.
e. Memanfaatkan waktu dengan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat, seperti belajar ilmu-ilmu agama, amar ma'ruf nahi munkar dan sebagainya.
f. Memilih teman-teman yang shaleh yang dapat membantu kita melaksanakan kebaikan.
g. Berbuat baik kepada orang lain dan memberikan sedekah. Nabi - Shalallahu 'Alaihi Wasallam – bersabda :
( من نفّس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفّس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة, ومن يسّر على معسر يسر الله عليه في الدنيا والآخرة, ومن ستر مسلما ستره الله في الدنيا والآخرة , والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه... )
" Siapa saja yang (membantu) menghilangkan kesusahan dari seorang mukmin di dunia pasti Allah akan menghilangkan kesusahannya pada hari kiamat, dan siapa saja yang meringankan beban orang yang mendapat kesulitan maka pasti Allah akan meringankan baginya urusan dunia dan akhirat, dan siapa saja yang menutupi a'ib seorang muslim maka pasti Allah akan menutupi a'ibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu membantu hamba-Nya selama hamba tersebut membantu saudaranya ". (HR. Muslim)
عن أبي أمامة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : داووا مرضاكم بالصدقة .
" Dari Abu Umamah - Radiyallahu 'Anhu – dia berkata : Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda : Obatilah orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah" . ( Shahih Al-Jami' : 2358 ).

Larangan Berlaku Boros

Larangan Berlaku Boros


Al-Ragib berkata, “Isrof adalah melampui batas dalam segala perbuatan yang kerjakan oleh manusia sekalipun hal tersebut lebih mashur, yang berhubungan dengan pengeluaran dalam pembelajaan harta.
Sofyan bin Uyainah berkata, “Harta yang aku belanjakan bukan dalam ketaatan kepada Allah maka dia termasuk boros sekalipun hal tersebut sedikit. Allah SWT berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba -Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Zumar: 53)
Kalimat isrof bisa terjadi pada harta dan yang lainnya, Allah SWT memperingatkan hamba -Nya dari sikap boros dalam firman-Nya:
وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-‘Arof: 31)
Sebagian ulama salaf berkata, “Allah telah mengumpulkan pola hidup sehat dalam setengah ayat: وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ
Allah SWT berfirman:
وَآتُواْ حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“…dan tunaikanlah haknya di hari saat memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-An’am: 141)
Atho’ bin Abi Robah berkata “Mereka dilarang berlaku boros dalam segala hal.
Ibnu Katsir berkata, “yang artinya janganlah berlebihan dalam makan, sebab akan bisa membahayakan bagi akal dan badan”.
Dari Amr bin Syu’aib daru bapaknya dari kakeknya RA bahwa Nabi bersabda, “Makan dan bersedeqahlah dan pakailah pakaian tanpa berlebihan dan sombong”.
Dari Ibnu Abbas RA berkata: Makanlah sekehendakmu dan pakailah sekehendakmu, dua perkara yang membuatmu salah yaitu boros dan sombong”.
Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib RA bahwa Nabi bersabda, “Tidaklah seorang anak Adam mengisi sebuah bejana yang lebih buruk daripada perut, cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya, dan jika mesti dilakukan maka hendaklah dia mengambil sepertiga untuk makanannya dan sepertiga untuk minumannya serta sepertiga untuk nafasnya”.
Dan sebagian ulama membedakan antara boros dan berlebihan/melampaui batas. Dan pola berlebih-lebihan yang dilarang oleh syara’ di dalam firman Allah SWT:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isro’: 27)
Mereka berkata, “Tabzir adalah mempergunakan harta bukan pada tempatnya, seperti penyaluran harta dalam kemaksiatan, atau menyalurkannya pada perkara yang tidak bermanfaat baik untuk bermain-main, meremehkan fungsi harta, sementara Isrof (Boros) adalah berlebihan dalam makan dan minum serta berpakaian tanpa dituntut kebutuhan. Allah SWT berfirman saat memuji hamba -Nya yang bersikap sederhana:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan sesungguhnya (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. Al-Furqon: 67)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا
mereka tidak boros dalam memanfaatkan harta sehingga berbelanja melebihi kebutuhan dan tidak pula kikir terhadap keluarga mereka sehingga mengurangi hak-hak mereka, tidak memberikan kecukupan bagi mereka, namun mereka berlaku adil dan bertindak yang terbaik, dan sebaik-baik perkara itu adalah yang pertengahan, tidak berlebih-lebihan”.
Allah SWT berfirman:
وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu belenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena hal itu memebuat kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS. Al-Isro’: 29)
Inilah bentuk wujud sikap pertengahan yang diperintahkan, tidak kikir, tidak menahan, tidak berlebihan dan boros namun yang seharusnya adalah pertengahan di antara semua sikap ekstrim di atas. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah SWT memerintahkan agar seseorang bersikap sederhana di dalam kehidupan duniawinya, Dia mencela sikap kikir dan melarang sikap boros, (لاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ) Maksudnya adalah janganlah engkau bersikap pelit yang menahan harta, tidak memberikannya kepada seorangpun, (وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ) Maksudnya janganlah berlebihan dalam membelanjakan harta, sehingga pemberianmu terhadap orang melebihi kemampuanmu, dan pengeluaranmu melebihi penghasilanmu, (فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا) sehingga engkau terjebak dalam celaan manusia karena kekikiranmu dan mencercamu, mereka tidak membutuhkanmu, dan pada saat engkau mengulurkan pengeluaranmu di atas kemampuanmu maka dirimu tidak akan memiliki sesuatu yang dapat engkau infakkan, sehingga kamu menjadi seperti hasir, yaitu sebuah hewan tunggangan yang tidak mampu lagi berjalan”.
Dari Ali bin Abi Thalib RA berkata, “Apa yang engkau nafkahkan untuk dirimu, dan keluargamu tanpa ada sikap berlebihan dan boros, dan apa yang engkau shedeqahkan maka hal itu adalah bagimu dan apa yang engkau belanjakan dengan motifasi riya dan sum’ah maka itu adalah bagian dari setan”.
Ibnul Jauzi berkata, “Orang yang berakal akan mengatur kehidupannya di dunia, jika dia miskin maka dia akan bersungguh-sungguh dalam berusaha dan berwiraswasta guna menghindarkannya dari tunduk terhina terhadap makhluk, meminimalisir hubungan (hutang piutang), menciptakan sikap qona’ah, sehingga dengan demikian dia akan selamat dari ketergantungan kepada pemberian orang lain dan hidup dengan citra yang mulia, namun jika dia adalah orang yang kaya maka hendaklah dia mengatur belanjanya, agar dia tidak terjebak ke dalam kefakiran yang mengarahkannya kepada kehinaan bagi seorang makhluk…”.
Dan seyogyanya juga dia memperhatikan perkara ini, bahwa mengeluarkan harta dalam kebenaran tidak termasuk boros. Mujahid berkata, “Kalau seandainya seorang menginfakkan hartanya dalam kebenaran maka dia bukan termasuk pemborosan, dan seandainya dia menginfakkan satu mud bukan pada tempatnya maka hal itu termsuk pemborosan”.
Di antara bentuk pemborosan yang dilakukan oleh masyarakat adalah pemborosan dalam pesta dan resepsi pernikahan serta acara-acara lainnya, baik pesta yang kecil atau besar, ketika makanan dihidangkan melebihi kebutuhan.
Di antara bentuk pemborosan adalah pemborosan dalam pemakaian air. Dari Anas RA bahwa Nabi berwudhu’ dengan satu mud dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud”.( )
Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya berkata: Seorang A’rabi datang kepada Nabi dan bertanya kepada beliau tentang wudhu’?. Maka beliau memperlihatkan kepadanya cara berwudhu’ tiga kali, kemudian beliau bersabda, “Inilah wudhu’, maka barangsiapa yang menambah berarti dia telah berbuat buruk, melampaui batas dan berlaku zalim”.
Bentuk pemborosan lainnya adalah berlebihan dalam membelanjakan harta. Dari Khaulah Al-Anshoriyah berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang lelaki menenggelamkan diri memanfaatkan harta milik Allah bukan pada jalan yang benar, maka mereka mendapat balasan neraka pada hari kiamat”.
Termasuk di dalam hadits ini adalah orang yang bepergian ke negara-negara kafir, mereka membelanjakan harta yang banyak dalam rangka rekreasi mereka tersebut, maka dengan melakukan hal tersebut mereka telah mengumpulkan dua kemaksiatan:
Pertama: Kemaksiatan bepergian ke negara-negara orang kafir dan Nabi telah melarang perbuatan tersebut.
Dari Jarir RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah-tengah orang musyrik…….”.
Kedua: Menyokong negeri-negeri kafir dengan harta yang telah dibelanjakan pada saat itu.
Dari Abi Barzah AL-Asalmi RA bahwa Nabi bersabda, “Tidak akan melangkah dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dirinya akan ditanya oleh Allah SWT tentang umurnya untuk apa umur tersebut dia habiskan? tentang ilmunya apakah yang telah diperbuat dengan ilmu tersebut, tentang hartanya dari manakah dia dapatkan dan kemanakah disalurkannya”. Dan banyak lagi bentuk-bentuk pemborosan lainnya.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.