Minggu, 28 Maret 2010

Perlukah hernia dioperasi?

Perlukah hernia dioperasi?



Hernia pada bayi baru lahir dan anak terjadi akibat adanya suatu area yang ’lemah’ di dinding perut. Kondisi ini sudah ditemukan sejak lahir. Kadangkala, hernia hanya terlihat saat bayi menangis, batuk, atau mengedan (ketika pup). Pada anak lebih besar, hernia akan terlihat lebih jelas lagi, terutama ketika anak batuk, mengedan atau berdiri untuk jangka lama.
Sampai kini, tidak ada penyebab yang jelas. Umumnya, disebabkan peningkatan tekanan dalam rongga perut, sejak dalam kandungan sudah ada bagian dinding perut yang lemah, atau keduanya. Pada bayi dan anak, faktor risiko terjadinya hernia adalah ketidakmatangan organ dan riwayat keluarga.

Masalahnya, hernia akan terus membesar bila tidak dikoreksi. Pembesaran ini akan menekan organ di sekelilingnya, sehingga muncul rasa nyeri dan pembengkakan. Komplikasi paling serius terjadi jika sebagian usus terperangkap di lubang hernia, tidak bisa masuk lagi ke rongga perut. Kondisi ini menyebabkan usus mengalami sumbatan, lalu timbul rasa nyeri, mual, muntah, dan tidak bisa membuang gas. Penjepitan juga mengakibatkan terganggunya aliran darah ke bagian usus tersebut, sehingga usus mati. Kondisi tersebut bisa mengancam jiwa dan harus secepatnya dioperasi.

Bila hernia kecil, masih ada waktu untuk observasi. Nah, diperlukan intervensi berupa operasi jika hernia terus membesar atau menimbulkan nyeri. Operasi hernia adalah prosedur bedah yang ringan. Dokter akan membuat sayatan kulit di area hernia, mendorong bagian usus yang keluar agar kembali masuk ke rongga perut, serta menjahit atau menutup lubang tadi. Yang pasti, konsumsi makanan tinggi serat akan membantu pola pup anak. Jadi, ia tidak perlu mengedan dan risiko hernia pun berkurang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar